Pages

Tampilkan postingan dengan label benteng keraton. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label benteng keraton. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 April 2015

SAATNYA BUTON KEMBALI KEPADA JATI DIRINYA SESUAI HARAPAN PERJUANGAN KESULTANAN BUTON DIMASA LALU

Di Era Ke Emasan Kesultanan Buton, masyarakat buton bersama2 dan saling bahu membahu mempertahankan daerah ini baik itu dari ambisi Belanda, Perompak maupun kerajaan2 luar yang ingin menguasai daerah Kesultanan Buton..dan Alhamdulillah ikatan persaudaraan kebutonan ini ternyata masih terjaga di masyarakat buton perantauan atau masyarakat buton yang berdomisili di luar buton..Ini terlihat dimanapun mereka berada (diluar eks wilayah kesultanan buton) mereka menyatu menjadi BUTON walaupun saat ini Buton itu sendiri telah terbagi2 menjadi beberapa wilayah dlm kerangka otonomi daerah…yang patut disayangkan ikatan persaudaraan buton diluar daerah berbanding terbalik dengan kondisi yang ada dalam buton sendiri…konflik horizontal antar sesama warga buton kadang sering terjadi…moga ini semua hanya sebuah proses menuju nilai akhir ..Dulu didalam buton sendiri persaudaraan itu kuat, sekarang persaudaraan itu justru kuat diluar bukan didalam..sebuah dilema sosial yang harus menjadi perhatian besar…kita semua ingin buton menjadi baik walaupun tidak harus kembali jaya seperti di masa lalu
DEWASA DALAM BERTINDAK DAN DEWASA DALAM BERPIKIR
BIJAK DALAM BERTINDAK DAN BIJAK DALAM BERTINDAK
MUNGKIN ITU SALAH SATU MAKNA AJARAN2 TETUA2 KITA DI BUTON…
ILMU ITU TAK AKAN LEKANG OLEH WAKTU
ILMU ITU TIDAK AKAN TERGERUS OLEH WAKTU..
Kesultanan Buton telah meninggalkan warisan untuk kita semua…mungkin atau tidak mungkin kejayaan buton di era lalu kembali lagi..wallahu allam..tapi kembali atau tidak kembali era itu, Kesultanan Buton meninggalkan kita Ilmu2 yg jauh lebih bermanfaat untuk di aplikasikan dalam kehidupan sehari…
Masyrakat Buton harus kembali pada jati dirinya..kearifan local harus tetap terjaga demi BUTON yang lebih baik ke depan…Kesultanan Buton telah memberikan perannya yg terbaik utk anak cucunya dan saatnya kita juga berbuat yg terbaik utk anak cucu kita kelak agar proses regenerasi selalu berjalan baik

Rabu, 08 April 2015

Sultan Buton Ke 39

Inna Lillahi wa Innailahi Rojiun
Sultan Buton Ke 39
H. LA ODE MUHAMMAD DJAFAR, SH,
QAIMUDDIN KHALIFATUL KHAMIS
Telah berpulang kerahmatullah pada dini hari, di Makassar, akibat penyakit yang dideritanya sejak tahun 2012. Beliau mangkat dalam umur 84 tahun. Jenazah beliau akan dimakamkan besok tanggal 4 Januari 2015 di Baadia, Kota Baubau,Sulawesi Tenggara. Mohon keikhlasan mengirim bacaan Al Fatihah untuk beliau, semoga arwahnya diterima disisi Allah.Amin.In Memorial Ketika Proses Pelantikan Beliau Sebagai Sultan Buton Ke 39..
http://bentengkeratonbuton.blogspot.com/http://bentengkeratonbuton.blogspot.com/
http://bentengkeratonbuton.blogspot.com/












sumber; Kaos Benteng Keraton Buton

benteng keraton ANTARA BUTON, WOLIO, DAN BAUBAU.

http://biruhijau09.blogspot.com/
Buton adalah nama sebuah pulau di Jazirah Sulawesi. Yang menurut sumber lokal (mitos lokal) muncul dari buih ombak (bura satongka). Buton sebagai suatu Kerajaan/Kesultanan mulai dikenal dalam Sejarah Indonesia karena telah tercatat dalam naskah Nagarakretagama karya Mpu Prapanca pada Tahun 1365 Masehi

Lwirning dharmma karsyanika -/- nang sumpun rupit mwang pilan, (38a) len tekang pucangan jagaddhita pawitra mwang gutun tan kasah, kapwa tekahana pratista sabha len lingga pranala pupun, mpungku sthapaka sang maha guru panengguhning sarat kottama.

Desa-desa tempat keresian yakni: Sumpun, Rupit, dan Pilan lain pula Pucangan, Jagadhita, Pawitra, tidak dilupakan Butun, di semua itu ada taman indah, lingga dan saluran-saluran air, pendeta Budha tersohor maha guru di dunia amat mulia (Wirama 78, Pupuh LXXVIII dalam naskah Nagarakrtagama).

Raja Buton pertama adalah seorang perempuan yang bernama Wa Kaa Kaa. Wa kaa kaa atau Tu We Khan dinobatkan sebagai raja Buton sekitar tahun 1330 M. Negeri Buton sebelum terintegras ke dalam NKRI memliki 6 Raja atau Ratu dan 38 Sultan. Sebelum 1960 orang yang tinggal daerah atau wilayah Kesultanan Buton disebut orang Buton. Setelah melalui proses yang cukup panjang daerah kesultanan Buton telah menjelma menjadi enam daerah otonom tingkat dua yaitu Baubau, Buton, Wakatobi, Bombana, Muna, dan Buton Utara ( Buton Selatan, Buton Tengah, dan Muna Barat, menurut catatan Coopenger 2010 termasuk p. Wawonii/konawe kepulauan).

Wolio adalah pusat pemerintahan kerajaan/kesultanan Buton. Wolio sebagai pusat Kesultanan, sampai saat ini pula masih menyimpan, dan dapat disaksikan benda-benda hasil karya masyarakat berupa peninggalan sejarah, budaya arkeologi seperti tiang bendera, masjid agung keraton, Masjid Kuba Baadia, dan beberapa buah benteng yang merupakan saksi kongkrit peninggalan sejarah kejayaan masa lalu.Pada dasarnya, wilayahnya meliputi sekitar Benteng Keraton Buton. Jika diperluas, maka Wolio meliputi kota Baubau saat ini. Jadi dapat dikatakan bahwa kota Baubau merupakan penjelmaan dari ibu kota kerajaan dan kesultanan Buton yang sebelumnya bernama Wolio.

Baubau dalam bahasa Wolio adalah bhaau (baru) berarti pembaharuan yang terus-menerus (sa bhaau-bhaau). Baubau pada dasarnya adalah perluasan ibu kota kesultananan yang sebelumnya berpusat di Wolio atau penduduk setempat menyebutnya Keraton. Baubau mulai terbentuk seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.

Pemaknaan Bhaau yang berarti baru, juga bermakna kondisi masyarakat yang selalu bersifat dinamis yang selalu memperbaharui diri dalam beradaptasi dengan segala macam tuntutan kehidupan sesuai dengan tuntutan zaman. Salah satu nara sumber penulis bercerita bahwa Baubau adalah bermakna kota baru, seperti halnya; New York, New Delhi, New Zeland, New Mexico dan lain sebagainya.

Kota Baubau mempunyai posisi yang strategis dan andil yang signifikan bagi dinamika kontinuitas sebuah peradaban di Jazirah Sulawesi bagian Tenggara yang terrefleksi dari kedudukannya sebagai pusat pemerintahan kerajaan /kesultanan Buton. Sejak tahun 1870 Baubau menjadi pusat administrasi Hindia Belanda dan pada tahun 1911 Baubau dijadikan ibukota Afdeling Oost Celebes (Sulawesi Timur). Pada tahun 1950an-1964 menjadi ibu kota kabupaten Sulawesi Tenggara dan 1964 sampai 2001 menjadi ibukota Kabupaten Buton. Dewasa ini Baubau adalah sebuah Pemerintahan Kota di pulau Buton, Sulawesi Tenggara, memperoleh status kota pada tanggal 21 Juni 2001 berdasarkan UU No. 13 Tahun 2001.

Kalau boleh penulis beranalogi bahwa: Buton, Wolio, dan Baubau seperti halnya Amerika Serikat, Washington, dan New Work. Amerika Serikat adalah Buton bersama Baratanya. Washington ibu kota USA adalah sama halnya dengan Wolio sebagai ibu kota Buton, dan New Work, kota baru adalah Baubau.

Baubau ada karena kebutuhan Buton yang semakin lama semakin besar untuk menammpung arus globalisasi dunia Luar (luar Buton). Baubau menjadi "the NEW CITY" untuk mewadahi keinginan yang semakin berragam. Namun demikian, rohnya tetap pada pancaran Buton dan Wolio. Kira-kira demikian menurut hasil diskusi dan telaah penulis bersama para nara sumber yang penulis temui baru-baru ini.

benteng keraton "Makam raja buton (MAKAM KONTROVERSI)"

MAKAM KONTROVERSI
Hampir Satu Minggu Admin Melakukan Penelusuran Makam2 Sultan Buton Yg Berada Di Dalam Kompleks Benteng Keraton Buton..Admin Mdapatkan Hal Yang Mencengangkan Dimana Admin Mendapatkan 2 Makam Yang Sama Yaitu Makam La Tumpamana Sultan Zaenuddin (Sangia Yi Kaesabu) Memerintah Tahun 1680-1688..Admin tetap brpikir positif dgn tidak myalahkan siapapun karna inilah proses pembelajaran akan penelusuran/identifikasi kembalii sejarah perjalanan Kesultanan Buton Masa Lalu..Adminpun uda menyampaikan kesalah satu staff Dinas Pariwisata Kota Baubau Utk Ditindak Lanjuti Penemuan Admin..Inilah Ke 2 Makam Sultan Buton Yg Sama Tersebut Yang Dalam Kondisi Tidak Terawat..Hari Ini Moga ƍĪ Ada Halangan Utk Menyampaikan Langsung Penemuan Tersebut Kepada Kepala Dinas Pariwisata Kota Baubau...
Letak Makam Pertama berada di Belakang bengkel motor depan Bastion Kalau sedang makam ke dua berada di Belakang Polindes Kelurahan Melai atau Samping TK Kelurahan Melai...
http://bentengkeratonbuton.blogspot.com/

Selasa, 07 April 2015

sejarah LAODE DAN WAODE

LAODE DAN WAODE MERUPAKAN
GELAR BANGSAWAN KESULTANAN BUTON

Mungkin beberapa anggota group atau masyarakat buton masih bertanda tanya perihal pemberian gelar bangsawan Laode dan Waode...untuk pemberiaan gelar di Bangsawan Kesultanan Buton dalam hal ini pusat pemerintahan kesultanan buton (wolio) berbeda dengan daerah ke 4 Bharata kesultanan buton...ini berhubungan dengan hak otonom yang diberikan oleh kesultanan buton kpd ke 4 bharata tersebut...Hanya patut disayangkan Gelar Laode/Waode saat ini dikotori oleh oknum2 yg bergelar Laode/Waode lewat perilaku2 mereka yg tidak terpuji...Moga mereka2 yang masih memiliki gelar Laode/Waode tersebut akan tetap menjaga makna gelar tersebut lewat perilaku2 terpuji mereka dalam kehidupan sehari-harinya, seyogyanya mereka bisa menjadi panutan Masy. Buton krn didalam diri mereka mengalir darah Bangsawan Kesultanan Buton ....

BUKU PANDUAN KAWASAN BENTENG KERATON BUTON

BUKU PANDUAN KAWASAN BENTENG KERATON BUTON
Untuk lebih meningkatkan kepedulian group komunitas peduli benteng keraton buton sebagai benteng terluas di duniaterhadap benteng keraton buton, tahun 2015 ini admin akan meluncurkan buku panduan kawasan benteng keraton buton untuk para pengunjung benteng keraton buton..lewat buku panduan ini, pengunjung tidak akan bingung lagi ketika berkunjung..
MATERI ISI BUKU PANDUAN :
1. Peta benteng keraton buton secara lengkap,
2. Foto dan nama2 lawa dan uraiannya serta titik lokasinya,
3. Foto dan nama2 baluara dan uraiannya serta titik lokasinya,
4. Sejarah singkat tentang sultan2 buton pada masa memerintah khusus sultan buton yg makamnya berada dalam benteng serta titik lokasinya,
5. Uraian tentang masjid quba dan masjid agung keraton serta titik lokasinya,
6. Uraian batu peropa serta titik lokasinya,
7. Uraian batu popaua serta titik lokasinya,
8. Uraian batu petirtaan serta titik lokasinya,
9. Uraian batu baluwu serta titik lokasinya,
10. Uraian kamali kara/bata serta titik lokasinya,
11. Uraian gua arung palaka serta titik lokasinya,
12. Uraian parigi serta titik lokasinya,
13. Pusat naskah wolio serta titik lokasinya,
14. Pusat kebudayaan wolio serta titik lokasinya,
15. Perpustakaan sultan buton ke 24 la jampi serta titik lokasinya,
16. Uraian tiang bendera kesultanan serta titik lokasinya,
17. Uraian jangkar serta titik lokasinya,
18. Uraian baruga serta titik lokasinya,
19. Pengrajin2 tradisional yg berada dalam kawasan benteng serta titik lokasinya,
20. Uraian tarian galangi,
21. Uraian kabanti,
22. Penjelasan ritual/upacara adat masyakarakat keraton wolio (posipo/upacara 7 bulanan, alaana bulua/upacara pemotongan rambut, upacara dole dole, upacara tandaki/khitanan anak laki2, posusu/khitanan anak perempuan,posuo, kawia, proses kematian, ritual ramadhan, pekandeana anana maelu, sumpuana uwena syaafara, gorana oputa, rajabu, nisifu syaabani, 1 ramadhan, qunut, raraeya haji/idul adha, raraeya mpu/idul fitri,
23. Permainan anak2 : lojo2, pebudo, peka manu-manu, posemba, pelojo, pegasi, pekaleko, masakan/makanan tradisional masy. Keraton wolio)..

Moga lewat buku panduan ini pengunjung bisa lebih mengenal tentang benteng keraton buton serta apa yg ada di dalamnya maupun adat istiadat masy. Keraton wolio..buku panduan ini tidak hanya diperuntukkan untuk pengunjung akan tetapi masy. Buton[un bisa mendapatkan untuk menambah khasanah pengetahuan tentang warisan kesultanan buton..
Buku panduan ini nantinya bisa didapatkan hanya di outlet kaos benteng keraton buton yang beralamat di kompleks benteng keraton buton, jl. Labuke, simpang 3 depan makam sultan murhum, kel, melai, kota baubau..pin bb 3241b852, phone : 087774350543

http://bentengkeratonbuton.blogspot.com/

daftar raja dan sultan Buton

Berikut ini daftar raja dan sultan yang pernah berkuasa di Buton. Gelar raja menunjukkan periode pra Islam, sementara gelar sultan menunjukkan periode Islam.
Raja-raja:
1. Rajaputri Wa Kaa Kaa (Pertengahan Abad XIV)
2. Rajaputri Bulawambona (Akhir Abad XIV)
3. Raja Bancapatola/Bataraguru (Awal Abad XV)
4. Raja Tuarade (Akhir Abad XV)
5. Rajamulae (Awal Abad XVI)
6. Raja Murhum (1538-1558)
Sultan-sultan:
1. Lakilaponto (Murhum) / Sultan Kaimuddin Khalifatul Khamis (1558-1584 M)
2. La Tumpamasi / Sultan Kaimuddin (1584-1591)
3. La Sangaji / Sultan Kaimuddin (1591-1597 M)
4. La Elangi / Sultan Dayanu Ikhsanuddin (1597-1631 M)
5. La Balawo / Sultan Abdul Wahab (1631-1632)
6. La Buke / Sultan Gafurul Wadudu (1632-1645)
7. La Saparigau (1645-1647 M)
8. La Cila / Sultan Mardan Ali (1647-1654 M)
9. La Awu / Sultan Malik Sirullah (1654-1664 M)
10. La Simbata / Sultan Adilil Rakhim (1664-1669 M)
11. La Tangka Raja / Sultan Dayanu Kaimuddin (1669-1672 M)
12. La Tumpamana / Sultan Zainuddin (1680-1688 M)
13. La Umati / Sultan Liyauddin Ismail (1688-1695 M)
14. La Dini / Sultan Syaifuddin (1695-1702 M)
15. La Rabaenga / Sultan Syaiful Rijali (1702 M)
16. La Sadaha / Sultan Syamsuddin (1702-1709 M)
17. La Ibi / Sultan Nasiruddin (1709-1711 M)
18. La Tumparasi / Sultan Muzhiruddin Abdul Rasyid (1711-1712M)
19. Langkariri / Sultan Sakiyuddin Durul Alam (1712-1750 M)
20. La Karambau / Sultan Himayatuddin Muh. Saidi (1750-1752 M)
21. Hamim / Sultan Sakiyuddin (1752-1759 M)
22. La Maani / Sultan Rafiuddin (1759-1760 M)
23. La Karambau / Sultan Himayatuddin Muh. Saidi (1760-1763 M)
24. La Jampi / Sultan Kaimuddin (1763-1788 M)
25. La Masalalamu / Sultan Alimuddin (1788-1791 M)
26. La Kopuru / Sultan Muhayuddin Abdul Gafur (1791-1799 M)
27. La Badaru / Sultan Dayanu Asraruddin (1799-1822 M)
28. La Dani / Sultan Muh. Anharuddin (1822-1823 M)
29. La Ode Muh. Idrus / Sultan Muh. Idrus Kaimuddin (1824-1851 M)
30. La Ode Muh. Isa / Sultan Muh. Isa Kaimuddin (1851-1871 M)
31. La Ode Muh. Salihi / Sultan Muh.Salihi Kaimuddin (1871-1885 M)
32. La Ode Muh. Umar / Sultan Muh. Umar Kaimuddin (1886-1904 M)
33. La Ode Muh. Asikin / Sultan Muh. Adilil Rakhim (1906-1911 M)
34. La Ode Muh. Husain / Sultan Muh. Husaini Dayanu Ikhsanu Kaimuddin (1914 M)
35. La Ode Muh. Ali / Sultan Muh. Ali Kaimuddin (1918-1921 M)
36. La Ode Muh. Syafiu / Sultan Muh. Syafiul Anami (1922-1924 M)
37. La Ode Muh. Hamidi / Sultan Muh. Hamidi Kaimuddin (1927-1937 M)
38. La Ode Muh. Falihi / Sultan Muh. Falihi Kaimuddin (1938-1960 M).


sumber: Kaos Benteng Keraton Buton

PERJALANAN ARUNG PALAKA DARI BONE MENUJU BUTON


http://bentengkeratonbuton.blogspot.com/
Arung Palakka adalah tokoh sejarah dan pejuang kemanusiaan dari tanah bugis yang hidup di abad ke-16. Arung Palaka juga adalah Raja Bone ke-16 bernama lengkap Arung Palakka La Tenritatta To Ureng To-ri SompaE Petta MalampeE Gemme’na Daeng Serang To’ Appatunru Paduka Sultan Sa’adduddin Matinroe ri Bontoala (1672-1696) (Rusli, 2012,: 1). Arung Palakka melakukan perjalanan panjang dalam misi mencari bantuan untuk membebaskan kerajaan Bone dan kerajaan-kerajaan bugis lainnya, salah satu tempat yang dituju pada awalnya justeru tanah Buton (Kesultanan Buton). Arung Palakka pada Desember 1660, bersama pengikutnya meninggalkan pantai Palette menuju Pulau Buton (Patunru, 1989,:39-40; Ali, 1989, Andaya, 1981:59). Arung Palakka meninggalkan pantai Palette pada hari Sabtu 25 Desember 1660 (Zuhdi, 1995:78), sementara La Ode Zaenu mengungkapkan bahwa pada 19 Agustus 1660 Arung Palakka bersama isterinya Daeng Talele tiba di Buton, Arung Palakka di Buton biasa disebut La Tondu (Zaenu, 1985:69).
Kedatangan Arung Palakka di Buton bersama para pengikutnya diterima dengan senang hati oleh Sultan Buton La Awu (Ligtvoet, 1877: 46), hal ini terjadi oleh karena kedua bangsa ini (Bugis dan Buton) ketika itu telah terjalin hubungan persahabatan yang harmonis dan tidak pernah terlibat dalam persengketaan atau peperangan, yang ada hanyalah kerjasama melalui musyawarah dan mufakat diantara keduanya. Kalau menghadapi masalah-masalah yang membahayakan mereka menyelesaikan dengan baik. Oleh karena eratnya hubungan kedua kerajaan ini dimasa lampau, maka Bone dan Buton disebut kerajaan kembar, bagi masyarakat bugis Bone mengistilahkannya dengan “Bone rilau, Butung riaja” yang berarti “Buton adalah Bone di Timur, dan Bone adalah Buton di Barat” (Thalha, 1982:28, Zuhdi, 1994,:13).
Suatu ketika, datanglah utusan kerajaan Gowa ke Buton untuk melakukan investigasi keberadaan Arung Palakka dan rombongan, namun Arung Palakka bersembunyi di sebuah gua yang berada di benteng kesultanan Buton Kota Baubau saat ini. Gua tersebut kemudian diberi nama “Liana La Toondu” nama samaran Arung Palakka semasa di Buton atau lebih dikenal dengan sebutan “Gua Arung Palakka”.
Selama tinggal menetap di Buton dan sembari mempersiapkan segala kebutuhannya dan menunggu musim barat untuk melakukan pelayaran ke Batavia, Arung Palakka oleh syara Kesultanan Buton di angkat sebagai Lakina Holimombo sebuah Kadie kesultanan Buton di wilayah Pasarwajo sekarang ini (Zahari II,: 76-77). Ligtvoet juga menerangkan bahwa Arung Palakka kemudian diberi jabatan sebagai Lakina Holimombo, jabatan yang setingkat dengan Arung di kerajaan Bone, yaitu kepala pemerintahan Kadie (Ligtvoet, 1877:44-46). La Ode Zaenu dalam bukunya juga mengulas bahwa Arung Palakka selama di Buton tinggal menetap di rumah La Ode Arafani yang saat itu menjabat Lakina Holimombo sebelum menjadi Sapati Buton. Setelah menikahkan Arung Palakka dan Daeng Talele maka Syarat Buton mengangkat Arung Palakka menjadi Lakina Holimombo menggantikan La Ode Arafani yang selanjutnya menjabat Sapati kesultanan Buton. (Zaenu, 1985,:69-70)

Literatur pendukung :
- Andaya, Leonard Y., 1981. The Heritage of Arung Palakka A History of South Sulawesi (Celebes) in the Seventeenth Century, The Hague; Martinus Nijhoof
- Ali, Muhammad H.A. dan A. Amrullah., 1989. Arung Palakka Potret Seorang Pembebas, Watampone 29 Nopember.
- Ligtvoet, A., 1878. “Beschrijving en Geschiedenis van Boeton” Bijdragen tot de Taal-, Land-en Volkenkunde, 26:1-112.
- Patunru, A. Daeng., 1989. Sejarah Bone, Ujung Pandang, Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan.
- Rusli, Daeng., 2012. Arung Palakka dan Riwayat Persekutuan 236 Tahun (Article). www.ruslidaeng.net
- Thalha, 1982. Kabupaten Sulawesi Tenggara Fase Perkembangan Ke Status Propinsi, Biro Hukum Setwilda Tingkat I Sulawesi Tenggara.
- Zaenu, Laode., 1985. Buton Dalam Sejarah Kebudayaan, Suradipa Surabaya.
- Zahari, A. Mulku., 1977. Sejarah dan Adat Fiy Darul Butuni (Buton), Jilid I, II dan III, Jakarta : Depdikbud,RI.
- Zuhdi, Susanto., 1996. Kerajaan Tradisional Sulawesi Tenggara Kesultanan Buton, Depdikbud RI Jakarta.
- ----------------------, 2010. Sejarah Buton Yang Terabaikan Labu Rope Labu Wana, Yayasan Kebudayaan Masyarakat Buton-Rajawali Pers.

Sumber: Kaos Benteng Keraton Buton

Minggu, 05 April 2015

benteng keraton "Awal Lahirnya Falsafah Perjuangan Kesultanan Buton & Agama Islam"

Mohon Diliruskan Jika Salah Agar Benang Merah Sejarah Bisa Didapatkan
Awal Lahirnya Falsafah Perjuangan Kesultanan Buton &
Agama Islam, Tertinggi dalam Falsafah Perjuangan Kesultanan Buton
Dalam sejarah perjuangan masyarakat Buton sejak peralihan Kerajaan menjadi Kesultanan, banyak rintangan yang dihadapi.
Kekalahan panglima Perang Tobelo (La Bolontio) oleh Sultan Buton I Murhum atau Laki Laponto menjadi titik nol sejarah lahirnya Kesultanan Buton sejak lehadiran Syaikh Maulana Sayid Abdul Wahid mengajarkan Syariat Islam di negeri Butuuni pada abad ke-13.

Penobatan Murhum sebagai Sultan I yang menandai peri kehidupan berlandaskan Islam tidak serta merta berjalan mulus.
Kekalahan Labolontio menuai dendam Kesultanan Ternate untuk menuntut balas. Kondisi ini tercatat dalam lembaran sejarah Buton di masa pemerintahan Sultan I Murhum yang dilantik pada tahun 1558 yang sebelumnya telah dilantik menjadi raja ke-6 pada 1538. Kala itu Sultan Murhum mengumumkan keadaan ‘Berkabung’ bagi negeri Buton yang dikenal dengan “Ya Barataamo yo Lipu” artinya negeri dalam keadaan genting atau darurat.

Peristiwa ini ditandai dengan kehadiran pasukan Tobelo dari kesultanan ternate yang ingin menggempur Buton dibawah pimpinan Sultan Baabullah. Di saat yang bersamaan Buton juga tengah menghadapi ancaman dari Kapal Perang Belanda.
Pasukan ternate ketika itu telah mengelilingi perairan sebelah utara Buton yang kini diabadikan dengan nama sebuah daerah yakni “Labuantobelo” artinya pelabuhan pasukan perang Tobelo.
Kondisi darurat itulah yang mengilhami terbentuknya 4 kerajaan Barata yang memperkuat barisan pertahanan Buton yakni Kaledupa, Tiworo, Muna dan Kulinsusu. Empat kerajaan barata ini diberi hak otonom untuk menangkal setiap serangan musuh yang dipimpin seorang Lakina (pemimpin setingkat raja).

Pada saat itu pula Sultan mengangkat dua orang kepala angkatan perang (Kapitalau) yang diberi tugas mengamankan kawasan barat (Kapitalau Sukanaeyo) dan timur (Kapitalau Matanaeo). Kapitalau Matanaeo diangkat La Kabaura dan Kapitalau Sukanaeyo diangkat Ketimanuru.

Di satu sisi, Buton menghadapi ancaman dari Tobelo dan di sisi lain juga menghadapi serangan dari Belanda. Saat itulah Sultan juga mengumandangkan beberapa untaian kalimat yang dikenal sebagai Falsafah Perjuangan Islam Buton yakni “Yinda Yindamo Arataa somanamo Karo artinya Korbankan harta demi keselamatan jiwa”, Yinda Yindamo karo somanamo Lipu artinya Korbankan Jiwa demi keselamatan negara”, Yinda Yindamo Lipu somanamo Sara artinya Korbankan negeri demi keselamatan pemerintah” dan Yinda Yindamo sara somanamo Agama artinya korbankan pemerintah demi keselamatan Agama”. Agama menempati posisi tertinggi setelah pemerintah, negeri, jiwa dan harta.

Sabtu, 04 April 2015

benteng keraton "Padhamara Koae (Lampu Berkaki)"

Salah Satu Perlengkapan Adat Utk Masyarakat Keraton (Masyarakat Yg Brdomisili Di Dalam Kawasan Benteng Keraton Buton) Ketika Ada Yang Meninggal..Lampu Berkaki Ini Dinyalakan Selama 7 Hari 7 Malam dan Di Tempatkan Di Kamar Pembaringan Jenazah..Walaupun Jenazah Telah Di Kuburkan Tapi Lampu Berkaki Ini Tetap Dinyalakan dan Tidak Di Pindahkan Dari Tempat Semula..Tradisi Ini Masih Tetap Berlangsung Sampai Sekarang..
http://bentengkeratonbuton.blogspot.com/

Jumat, 03 April 2015

benteng keraton La Jampi Sultan Kaimudiin

La Jampi Sultan Kaimudiin
Sultan Ke 24 (1763-1788)
La Jampi Merupakan salah satu sultan yg populer dan merakyat di Masy. Kesultanan Buton karena sifatnya yang sangat perhatian dan peduli terhadap masy. Kesultanan Buton. Di Era pemerintahannya suasana kesultanan sangat mengkhawatirkan, banyak hal yg trjadi, seperti pertikaian antara berbagai golongan di dalam keraton wolio, beberapa kalangan yg tidak senang dgn pengangkatannya sebagai sultan, keinginan kebebasan muna dan belum pulihnya hubungan persahabatan antara Buton dan VOC/Belanda. Namun La Jampi mampu menyelesaikan masalah satu persatu yaitu masalah keamanan dan ketentraman muna, pulihnya hubungan Buton dgn VOC dan meredam konfllik internal bangsawan keraton wolio..La Jampipun mengundurkan diri sebagai Sultan bulan April 1788 dalam usia 100 tahun..Setelah itu beliau diangkat menjadi Raja Agama dan kemudian dikenal dgn nama Oputa Lakina Agama Mancuana yg artinya Sultan Raja Agama Tua..
Sumber Dinas Pariwisata Pemkot Baubau..

Pengunjung Benteng Keraton Buton

Aktivitas Pengunjung Benteng Keraton Buton "Benteng Terluas Di Dunia" Saat Menikmati Pemandangan Alam Saat Berada Di Benteng Keraton Buton...Disamping Anda Menikmati Kemegahan Benteng Terluas Di Dunia, Pesona Alam Ketika Berada Di Benteng Keraton Butonpun Dapat Anda Nikmati...Ayo Kunjungi Benteng Terluas Di Dunia Untuk Melengkapi Dunia Travelling Anda Di Indonesia

http://bentengkeratonbuton.blogspot.com/

benteng keraton "Tarian Galangi ( warisan kerajaan buton )"

Tarian Galangi hingga kini masih menjadi kebanggaan masyarakat Buton. Tarian ini sudah ada sejak masa kesultanan. Pasukan Galangi merupakan pasukan pengawal Sultan Buton
Pada masa Kesultana Buton pasukan Galagi merupakan pertunjukan heroik dan patriot yang nenandakan kekembiraan, pertujukan Galangi yang dimainkan merupakan tanda bahwa ditempat pertunjukan tersebut sudah dapat dipastikan ada Sultan, Sapati atau Kapitaraja atau ketiga-tiganya. Pada masa sekarang orang sering mengatakan tari galagi sebenarnya itu merupakan kesalahan sebab Galangi merupakan gerakan sukacita yang dilakukan oleh pasukan khusus pengawal keraton, gerakan sukacita ini dilakukan ketika memenagkan peperangan atau sukses melakukan pengawalan terhadap Sultan, Sapati atau Kapitaraja. Pasukan Galagi diperlengkapi dengan dua panji pengenal, yaitu panji berwana Kuning bertada Sultan Buton sedangkan panji berwarna merah bertanda Sapati dan Kapitaraja. Semasa kesultanan Buton masyarakat sangat faham dengan tanda-tanda dari kibaran warna panji pasukan Galangi
http://bentengkeratonbuton.blogspot.com/

benteng keraton Tarian MANGARU ( warisan kerajaan buton)

MANGARU
Tarian ini menggambarkan kobaran semangat ksatria yang lincah dan gesitnya menggunakan parang, keris, tombak dan senjata lainnya di medan perang. Dengan Konsentrasi yang penuh serta ketajaman hati dan pikiran akan mampu mematahkan keampuhan senjata lawan. Tarian ini apabila ditampilkan selalu diawali dengan WORE sebagai pembakar semangat akan kecintaan dan kesetiaan terhadap tanah leluhur. Tari ini biasanya dipertontonkan pada saat musim tanam-tanaman yang syukuran hasil panen. Namun, saat ini lebih sering ditampilkan sebagai tarian penyambutan tamu2 kehormatan....
http://bentengkeratonbuton.blogspot.com/

http://bentengkeratonbuton.blogspot.com/

Sabtu, 28 Maret 2015

benteng keraton "TATA CARA PEMILIHAN SULTAN BUTON"

Berikut akan dipaparkan Tata Cara Pemilihan Sultan Buton untuk menjadi bahan renungan sesuai yang terdapat dalam UU Murtabat Tujuh.
Karena kita memulai pelaksanaan pemilihan kesultanan yang baru, maka yag pertama dibentuk adalah siolimbona dan bonto ogena, yang akan dikukuhkan oleh sarana kadie ( parabela matana sorumba patamatana yaitu lapandewa, wabula, mawasangka dan watumotobe).
Setealah siolimbona terbentuk, maka mereka dapat melaksanakan tugasnya untuk memilih sultan dengan tahapan sebagai berikut :

1. TILIKI ; maksudya adalah meneliti, menyaring calon/figur dari kamboru mboru talupalena yaitu perwakilan dari kaum Tanailandu, kaum Tapitapi dan kaum Kumbewaha. Setiap kamboru mboru diawasi dan diteliti oleh 3 orang siolimbona, masing masing :
Bontona peropa, bontona gundu-gundu dan bontona rakia meneliti figur dari kaum Tanailandu.
Bontona baluwu, bontona barangka topa dan bontona wandailolo meneliti figur dari kaum Tapitapi.
Bontona Gama, bontona siompu dan bontona melai meneti figur dari kaum Kumbewaha.
Dari hasil penelitian mereka melahirkan 3 orang calon/figur dan selanjutnya figur tersebut dilaporkan kepada bonto ogena (abawamo katange), dalam bahasa adat disebut "daangia kokompoakea baaluwu te peropa).

2. KAMBOJAI ; maksudnya setelah bonto ogena menerima figur yang dilaporkan oleh siolimbona, tidak serta merta diterima atau ditetapkan (pasoa), tetapi masih dikembalikan untuk ditinjau kembali, dirapatkan dengan para yarona bonto dan yarona bobato, siapa tahu masih ada figur yang terlupakan sementara layak untuk dicalonkan menjadi sultan.

3. FALI ; prosesi ini maksudnya adalah pelaksanaan penetapan calon sultan secara agama/religi di dalam masjid agung keraton oleh imam mesjid dan bhisa patamiana yang diawali dgn shalat sunat istighara pada pukul 24.00 tengah malam. Setelah itu dibukakan Alquran pada juz 15 (pusena qura'ani walya thalatttaf), selanjutnya membuka 7 lembar bagian kanan dan 7 lembar bagian kiri untuk mencari huruf yang terbanyak sesuai nama calon/figur sultan. Calon yang terbanyak huruf namanya terdapat dalam lembaran Alquran yang dibuka tadi dan berdasarkan petunjuk dari Allah SWT (biasanya ada tanda sbg petujuk), maka dialah yang ditetapkan sebagai Sultan Buton dan 2 calon lainnya diangkat sebagai sapati dan kenepulu.

4. SOKAIANA PAU ; maksudnya penyampaian hasil Fali kepada khalayak bahwa Sultan Buton telah ditetapkan dan tidak dapat diganggu gugat.

5. BULILINGIANA PAU ; maksudnya adalah upacara pelantikan sultan terpilih yang ditetapkan pada hari jumat setelah pelaksanaan shlat jumat. Sultan terpilih diarak menuju batu popaua sebagai tempat pelantikan sultan dengan putaran payung 7 kali ke kanan dan 7 kali kekiri yang diawali dgn kata-kata sumpah (sumpana tana wolio).
Apabila penunjukan dan pengangkatan seorang Sultan Buton tdk melalui proses dan mekanisme seperti di atas maka berarti keberadaannya diragukan dan bisa dianggap ilegal atau melecehkan adat dan budaya leluhur di tanah Buton
Jika Salah Mohon Diluruskan....

http://bentengkeratonbuton.blogspot.com/

Minggu, 15 Februari 2015

benteng keraton "KERAJINAN KUNINGAN ( adat buton )"

Kerajinan Kuningan ini dapat ditemui didalam Kawasan Benteng Keraton Buton Yang Beralamat Di Kelurahan Melai, Lingkungan Peropa. Alamatnya skitar 20 Meter sebelah kanan saat masuk Pintu Gerbang Benteng Keraton Buton..Salah satu khasanah wisata tambahan anda ketika berkunjung ke Benteng Keraton Buton...Kerajinan Kuningan Yang Di Buat merupakan salah satu kelengkapan adat pakaian buton yang merupakan Warisan Kesultanan Buton dan tetap dipertahankan sampai sekarang

http://bentengkeratonbuton.blogspot.com/

Sabtu, 14 Februari 2015

benteng keraton "Pingit (POSUO)"

POSUO
Tradisi Warisan Kesultanan Buton

Tradisi Upacara adat Posuo yang berkembang di Buton sudah berlangsung sejak zaman Kesultanan Buton. Upacara Posuo diadakan sebagai sarana untuk peralihan status seorang gadis dari remaja (labuabua) menjadi dewasa (kalambe), serta untuk mempersiapkan mentalnya.

Upacara tersebut dilaksanakan selama delapan hari delapan malam dalam ruangan khusus yang oleh mayarakat setempat disebut dengan suo. Selama dikurung di suo, para peserta dijauhkan dari pengaruh dunia luar, baik dari keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Para peserta hanya boleh berhubungan dengan bhisa (pemimpin Upacara Posuo) yang telah ditunjuk oleh pemangku adat setempat. Para bhisa akan membimbing dan memberi petuah berupa pesan moral, spiritual, dan pengetahun membina keluarga yang baik kepada para peserta.

Dalam perkembangan masyarakat Buton, ada 3 jenis Posuo yang mereka kenal dan sampai saat ini upacara tersebut masih berkembang. Pertama, Posuo Wolio, merupakan tradisi Posuo awal yang berkembang dalam masyarakat Buton. Kedua, Posuo Johoro yang berasal dari Johor-Melayu (Malaysia) dan ketiga, Posuo Arabu yang berkembang setelah Islam masuk ke Buton. Posuo Arabu merupakan hasil modifikasi nilai-nilai Posuo Wolio dengan nilai-nilai ajaran agama Islam. Posuo ini diadaptasi oleh Syekh Haji Abdul Ghaniyyu, seorang ulama besar Buton yang hidup pada pertengahan abad XIX yang menjabat sebagai Kenipulu di Kesultanan Buton di bawah kepemimpinan Sultan Buton XXIX Muhammad Aydrus Qaimuddin. Tradisi Posuo Arabu inilah yang masih sering dilaksanakan oleh masyarakat Buton.

Keistimewaan Upacara Posuo terletak pada prosesinya. Ada tiga tahap yang mesti dilalui oleh para peserta agar mendapat status sebagai gadis dewasa. Pertama, sesi pauncura atau pengukuhan peserta sebagai calon peserta Posuo. Pada tahap ini prosesi dilakukan oleh bhisa senior (parika). Acara tersebut dimulai dengan tunuana dupa (membakar kemenyan) kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa. Setelah pembacaan doa selesai, parika melakukan panimpa (pemberkatan) kepada para peserta dengan memberikan sapuan asap kemenyan ke tubuh calon. Setelah itu, parika menyampaikan dua pesan, yaitu menjelaskan tujuan dari diadakannya upacara Posuo diiringi dengan pembacaan nama-nama para peserta upacara dan memberitahu kepada seluruh peserta dan juga keluarga bahwa selama upacara dilangsungkan, para peserta diisolasi dari dunia luar dan hanya boleh berhubungan dengan bhisa yang bertugas menemani para peserta yang sudah ditunjuk oleh pemangku adat.
Kedua, sesi bhaliana yimpo. Kegiatan ini dilaksanakan setelah upacara berjalan selama lima hari. Pada tahap ini para peserta diubah posisinya. Jika sebelummnya arah kepala menghadap ke selatan dan kaki ke arah utara, pada tahap ini kepala peserta dihadapkan ke arah barat dan kaki ke arah timur. Sesi ini berlangsung sampai hari ke tujuh.

Ketiga, sesi mata kariya. Tahap ini biasanya dilakukan tepat pada malam ke delapan dengan memandikan seluruh peserta yang ikut dalam Upacara Posuo menggunakan wadah bhosu (berupa buyung yang terbuat dari tanah liat). Khusus para peserta yang siap menikah, airnya dicampur dengan bunga cempaka dan bunga kamboja. Setelah selesai mandi, seluruh peserta didandani dengan busana ajo kalembe (khusus pakaian gadis dewasa). Biasanya peresmian tersebut dipimpin oleh istri moji (pejabat Masjid Keraton Buton).

Semua Upacara Posuo dimaksudkan untuk menguji kesucian (keperawanan) seorang gadis. Biasanya hal ini dapat dilihat dari ada atau tidaknya gendang yang pecah saat ditabuh oleh para bhisa. Jika ada gendang yang pecah, menunjukkan ada di antara peserta Posuo yang sudah tidak perawan dan jika tidak ada gendang yang pecah berarti para peserta diyakini masih perawan.

http://bentengkeratonbuton.blogspot.com/

Sabtu, 07 Februari 2015

benteng keraton "kisah Peristiwa Yoputa i Gogoli i Liwuto"

Yoputa i Gogoli i Liwuto dalam Dimensi Demokrasi Global

Peristiwa Yoputa i Gogoli i Liwuto (Sultan Buton yang di hukum mati dengan cara dicekik dengan seutas tali) adalah suatu pembelajaran demokrasi yang belum tertandingi di jagat bumi hingga saat ini. Menurut sejarawan Said, ketika Sultan Mardhan Ali akan di eksekusi, syarah Kesultanan yang di wakli oleh Mojina Kalau bertanya kepada sang Legenda demokrasi Buton tersebut, “Apa pesan terakhir mu?”. Sang Legenda dengan tenang menjawab “Aku pasrah kepada Rabbku, satu pesan ku, perlakukanlah putra ku sebagaimana putra-putra Buton lainnya”. Dalam versi lain, Sang Legenda berdoa dan mengucapkan beberapa ayat dalam alqur,an yang di pandu langsung oleh Mojina Kalau setelah itu ia pun menghembuskan napas yang terakhir (masih perlu penelitian lebih jauh).

Dalam belahan dunia lain banyak pemimpin atau tokoh dipaksa berhenti di tengah masa pemerintahannya. Bahkan tidak jarang banyak yang mengalami nasib sama seperti; pemimpin Pakistan, Ali Bhuto. Namun semua hal tersebut meninggalkan luka di kedua belah pihak; baik pihak yang menurunkan dan pihak yang diturunkan saling berseteru satu sama lain untuk waktu yang cukup lama.

Dalam kejadian Yoputa i gogoli i Liwuto, tidak demikian, sejarah mencatat dalam peristiwa tersebut tak satu pun, pengikut bahkan keluarga dekat sang Sultan yang memrotes langkah dan tindakan syarah Kesultanan tersebut, apalagi menuntut balas. “Inilah pembelajaran demokrasi yang patut dicatat dalam sejarah peradaban manusia” ungkap Siradjuddin Djarudju, guru besar, pakar antropologi budaya, dalam suatu kesempatan. Demokrasi yang kita pelajari dan jalani saat ini hanyalah “DEKORASI”, sambung salah satu teman yang hadir dalam diskusi tersebut. Menurut KBI, demokrasi adalah “gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara”.

La Cila bergelar Sultan Mardhan Ali menjadi Sultan Buton yang ke 8 (1647-1654). La Cila memiliki karakter kepemimpinan yang kuat dan hal itu sudah dibuktikannya. Ia pernah menjadi komdan pasukan Buton bersama sekutu Kesultanan Buton dalam menumpas perlawanan Kakiali di Ambon. Sebelum menjadi Sultan La Cila Atas`nama Sultan pernah menandatangani perjanjian Buton dengan VOC. Perjanjian itu mengukuhkan perjanjian sebelumnya yang telah ditandatangani oleh Sultan La Elangi yang dikenal sebagai janji taluanguna, perjanjian yang ketiga (Zahari, 1977).

Golongan yang semula meragukan kemampuan Ali, kemudian dapat menerimanya sebagai Sultan. Pengalaman Ali sebagai panglima perang tampaknya menjadi dasar pengakuan itu. Akan tetapi karakter Ali yang lain tidak mendukung dirinya sebagai citra raja yang adil. Ia dianggap melanggar adat dan agama. Pelan tapi pasti kedudukan Ali sudah tidak populer dikalangan para elite kerajaan.
Siang itu, dipenghujung tahun 1654, para elite kerajaan dan siolimbona nampak sibuk mondar-mandir tapi tak satu kata pun terucap dari bibir mereka. Mereka seakan tak punya kata-kata untuk menyuarakan tentang apa yang ada dalam benak mereka masing-masing. Tatapan tajam penuh makna dan guratan muka yang seolah menunjukan perpaduan antara amarah dan kasih yang berkecamuk menyelimuti wajah mereka.

Di sisi lain, masyarakat sedang menanti dengan perasaan penuh rasa keingin tahuan, tentang, apa gerangan yang akan terjadi? Awan mendung yang sejak pagi menggantung di kaki langit tak juga menunjukan pertanda akan segera turun hujan, namun hawa panas jelas teras sedang menyelimuti negeri keresian. Satu persatu para siolimbona dan para elite kerajaan berdatangan, setelah mereka terkumpul, mereka saling berbisik dengan suara yang tak terdengar tapi desah nafas mereka terdengar seperti gemuruh guntur di langit. yang saling bersahutan

Di tengah majelis nampak jelas terlihat kedua Bonto Ogena (sukanaeo dan Matanaeo) berbicara serius dengan Bontona Gampikaro. Sesekali Bontona Gampikaro berdiri menyapa beberapa pembesar lainnya, ia nampak terlihat paling sibuk di antara yang lainnya. Dari salah satu sudut majelis kedua tokoh kharismatik; Mojina Kalau (H. Sulaiman) dan Haji Pada (H. Abdullah) nampak berbicara serius dengan sesekali menatap jauh. Entah apa yang mereka tatap dan entah apa yang mereka bicarakan, juga belum terungkap. Matahari telah semakin menyingsing ke ufuk Barat pertanda shalat ashar akan segera tiba. Saat itulah ke tujuh siolimbana yang sejak tadi duduk agak terpisah dengan kedua tokoh (Mojina Kalau dan Haji Pada) nampak mendekat. Kini kesembilan tokoh (siolimbona) itu telah membentuk formasi (lingkaran), nampak mereka saling berkomat-kamit dan mengangguk-angguk satu sama lain. Mungkinkah mereka telah mendapatkan satu kesepakatan? Saat itupula beduk masjid berbunyi yang disusul oleh suara adzan yang sayup-sayup hampir tak terdengar. Mereka lalu bergegas menuju ke Masjid dengan langkah penuh rasa optimis. Hari itu, sepertinya, babak baru dalam sejarah demokrasi kemanusiaan akan segera terwujud.

Melihat para elite kesultanan tersebut saya sempat bertanya, di mana gerangan Sapati, kenepulu, dan kapitalao? Teman saya yang sedari tadi bersama ku menjelaskan bahwa “ini urusan legislatif dan agak yudikatif. Ketiga nama yang engkau cari adalah Eksekutif. Dari paparan teman, akhirnya saya mengerti, bahwa tidak elok rasanya ketiga tokoh yang saya cari untuk hadir dalam majelis tersebut. Jika mereka hadir akan memberi aroma subjektif dan bisa jadi dapat mengurangi independensi pengambilan keputusan, dan pada akhirnya dapat menimbulkan fitnah di kemudian hari.

Dalam Ajonga Nda Malusa, kitab yang di tulis oleh Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin al Buthuni mencatat dan menggambarkan kesalahan Mardhan Ali sebagai berikut:
“Kaapaka aakili budimani, amaeya mpu beyaa leya bawana , siymbau mpuu aaleya miarangana, adikangina toiyagoi bawana, osiytumo taoyaka asasiya, osabara gau olempagi mosala”. (pembacalah yang lebih paham terjemahannya)

Akan halnya perbuatan Ali tersebut syarah kesultanan memutuskan hukuman mati (paragraf kedua dari atas). Kesultanan Buton, dengan demikian, telah kehilangan salah satu raja yang ideal. Untuk menggantikan posisi Mardhan Ali, Syarah Kesultanan menetapkan La Awu menjadi Sultan (Zuhdi, 2010).

Aristoteles pernah berucap “demokrasi akan betul-betul bermakna jika diikuti dan diperankan oleh mereka yang paham akan arti dan makna demokrasi yang sesungguhnya”. “A democrat is person who believes in the ideals of democracy, personal freedom, and equality. Peristiwa Demokrasi Kesultanan Buton yang begitu dahsyat tersebut telah empat abad berlalu (1654), namun dari catatan di atas dapat disimpulkan bahwa seluruh komponen masyarakat Kesultanan Buton ketika itu telah pandai dan memahami makna demokrasi yang sesungguhnya, sebagaimana ungkapan Aristoteles.

Bagaimana dengan kita yang hidup di erah demokrasi?

Jumat, 06 Februari 2015

benteng keraton "WILAYAH KESULTANAN BUTON"

WILAYAH KESULTANAN BUTON
A. Wilayah Kesultanan Buton terdiri atas tiga bagian:
1. Wilayah Wolio atau keraton yang menjadi pusat pemerintahan dan pengembangan Islam ke seluruh wilayah kesultanan. Wilayah wolio hanya boleh dihuni golongan kaomu dan walaka (bangsawan).
2. “Wilayah Kadie” (wilayah di luar keraton, seluruhnya berjumlah 72 kadie) yang dimiliki golongan penguasa dan dihuni golongan papara.
3. Kerajaan-kerajaan kecil yang disebut “wilayah Barata”, yangmemiliki pemerintahan sendiri tetapi tunduk ke bawah kekuasaan pemerintah pusat setelah ditaklukkan.
B. Ada empat wilayah kekuasaan Barata yang masing-masing dipimpin Lakina Barata dari golongan Kaomu,yaitu:
1. Barata Muna yang berpusat di Raha, di pesisir timur bagian tengah Pulau Muna;
2. Barata Tiworo yang berpusat di Tiworo;
3. Barata Kulingsusu yang berpusat di bagian timur pulau Buton;
4. Barata Kaledupa yang berpusat di Kaledupa .
Barata harus membela Kesultanan Buton melawan musuh-musuhnya.
Kekuasaan pusat dipegang golongan kaomu dan walaka yang berkedudukan di Keraton Buton di Bau-Bau. Mereka menjadi penguasa yang tertinggi untuk ketiga-tiga wilayah itu (wolio, kadie dan barata).

Rabu, 04 Februari 2015

benteng keraton "istana benteng keraton buton"

Berada tidak jauh di luar kompleks keraton, terdapat istana Sultan Buton ke-38 yang kini menjadi museum atau Pusat Kebudayaan Wolio. Gagasan pendirian museum datang dari putra Sultan Buton ke-38 Drs. H. La Ode Manarfa Kaimuddin KK pada 1980. Saat ini Museum Kebudayaan Wolio dikelola oleh keluarga keturunan Sultan Buton ke-38. Koleksi museum terdiri atas benda-benda peninggalan dari Kesultanan Buton ke-38, berupa alat-alat upacara seperti tempolong, altar, vas bunga, senjata atau alat-alat peperangan seperti tombak, meriam, alat kesenian, alat rumah tangga, keramik, foto-foto dan lainnya.
Jika ingin mengetahui seluk-beluk Kesultanan Buton, menggunjungi Pusat Kebudayaan Wolio merupakan pilihan yang tepat. Tempat ini memang sengaja menjaga sejarah keslutanan Buton tidak hanya dalam bentuk benda-banda besejarah tapi juga kisah-kisah yang siap diungkapkan oleh keluarga yang menjaganya serta tak kalah penting nilai-nilai falsafah kehidupan orang Buton sendiri.
Cukup banyak falsafah hidup orang Buton yang sarat akan makna, diantaranya adalah Empat Aturan Dalam hidup bernegara dan berbangsa mereka memegang teguh empat aturan, yaitu Inda inda mo arata somanamo karo artinya, korbankan harta demi keselamatan diri. Kemudian Inda inda mo karo somana mo lipu, artinya korbankan diri demi keselamatan negeri, kemudian Inda inda mo lupu somanamu syara, artinya korbankan negeri yang penting pemerintahan. Terakhir adalah Inda inda mo syara somanamu agama artinya biarlah pemerintahan hancur yang penting agama.
Falsafah perjuangan kerajaan Buton ini tidak menentukan agama apa yang harus dibela, karena agama apapun sama saja, jika itu sudah menjadi pilihan orang atau negara yang bersangkutan. Selain falsafah negara, Orang Buton mempunyai falsafah hidup, yakni Po Mae Maeka, artinya sesama manusia harus tenggang rasa. Po ma ma siaka, artinya tiap manusia harus saling menyayangi, Po angka angka taka artinya tiap manusia harus saling menghargai dan Po pia piara artinya tiap manusia harus saling memelihara.

http://bentengkeratonbuton.blogspot.com/

http://bentengkeratonbuton.blogspot.com/